Kurangnya informasi yang kudapatkan menyebabkan aku tak terpikir untuk mengenalkan buku sejak dini pada anakku, Hanif. Pertama kali lihat iklan-iklan buku dari salah seorang teman, aku berpikir koq buku-buku untuk anak kecil aja mahal betul. Tapi tulisannya yang ‘gurih’ dan memikat, membuatku berpikir ulang bahwa buku memang perlu diperkenalkan pada anak sedini mungkin. Apalagi buku-buku yang berkonten Islam.
Awalnya aku coba belikan sebuah buku boardbook untuk Hanif yang isinya mengenal angka, huruf, gambar, bentuk, warna, dan lain-lain. Bukunya memang menarik. Alhamdulillah ternyata tak begitu sulit untukku mengenalkan buku itu pada Hanif. Kami suka main tebak-tebakan dengan buku tersebut. “Ini gambar apa?” atau “Ini huruf apa?” atau “Coba cari yang mana gambar kepiting!” atau “Ayo hitung ikannya ada berapa!” dan sebagainya.
Selanjutnya, dengan basmalah aku
memberanikan diri untuk ikut arisan satu buku paket anak yang menurutku begitu
mahal. Dengan menyisihkan uang belanja tiap bulan, akhirnya kudapatkan sepaket
buku Ensiklopedi Bocah Muslim (EBM). Ternyata luar biasa isinya. Aku saja
tertarik untuk membacanya. Betul-betul tidak menyesal aku membelinya. Banyak
hal-hal yang belum kuketahui sebelum aku membaca buku itu. Pokoknya buku itu
bermanfaat sekali untuk anak-anak dan juga untuk orang tuanya. Rasa mahal dari
buku itu hilang seketika.
Beberapa waktu, Hanif hanya suka
pada 1 jilid yang berjudul Transportasi. Dia memang antusias sekali kalau
melihat mobil, pesawat, dan juga kereta. Buku jilid itu saja yang suka dia
buka. Sampai-sampai buku itu robek di beberapa tempat, saking dia antusias
membuka-bukanya. Gak apa-apa lah ya…bertahap in sya Allah. Lama kelamaan, aku
yakin dia akan suka juga dengan
jilid-jilid yang lain.
Saat adiknya lahir, Hanif pun
disunat bersamaan dengan aqiqah Nayla, adiknya. Setelah itu, Hanif jadi suka
sekali dengan buku EBM jilid Tubuhku, yang di halaman terakhirnya ada perihal
sunat. Tak bosan-bosannya dia lihat buku itu dan membanding-bandingkan dengan
dirinya yang sudah disunat. Rasanya senang sekali melihat anakku antusias
dengan buku-bukunya. Semoga saja anak-anakku menjadi pecinta buku.
Selain EBM, akhirnya kubelikan juga
Halo Balita beserta e-pennya untuk anak-anakku, dengan sistem arisan juga
tentunya. Maklumlah, PNS sepertiku sulit untuk bisa membeli buku-buku semacam
itu secara tunai, sedangkan daerahku di Sumbawa Barat NTB ini bukan daerah yang
bisa membayar secara cicilan. Pilihan akhirnya adalah arisan. Alhamdulillah,
ikhtiar menyisihkan uang belanja bisa diwujudkan dengan buku-buku berkualitas
untuk anak-anakku.
Tak terbayangkan betapa antusiasnya
anak-anakku dengan Halo Balita dan e-epennya. Seringkali mereka rebutan e-pen.
Wah…wah…rame deh kalau sudah begitu, sehingga salah satu anak harus dialihkan
pada hal-hal yang lain. Alhamdulillah kedua anakku bukan tipe anak yang suka
membuang/membanting barang-barang ataupun mainan. Sehingga e-epen mereka tetap
awet hingga sekarang.
Nayla biasanya lebih suka membaca
sendiri bukunya dengan e-pen. Sedangkan Hanif lebih suka dibacakan olehku,
ibunya. Namun sekarang mereka berdua lebih suka ibunya yang membacakan buku
untuk mereka. Hampir tiap malam aku membacakan buku untuk mereka. Seringkali
mereka yang memilih buku mana yang mau dibacakan. Dan….seperti biasa, rebutan
lagi, minta dibacakan duluan buku pilihannya. Hehehe… Walaupun kadang aku
merasa kerepotan, tapi tertutupi dengan rasa bahagia karena anak-anakku suka
berinteraksi dengan buku.
Anak-anakku sudah agak besar
sekarang. Hanif usia 6 tahun, Nayla 3 tahun. Kini mereka lebih suka dibacakan
Ensiklopedi daripada Halo Balita. Ensiklopedi yang kami punya ada beberapa, yaitu Ensiklopedi Bocah Muslim,
Confidence In Science, dan ada beberapa Ensiklopedi yang dibelikan bapaknya di
toko buku retail. Semua mereka suka. Tapi, karena mereka lebih tertarik dengan
gambar-gambarnya, ketika aku bacakan tulisannya, mereka suka nyeletuk nanya
gambar ini gambar itu, suka bertanya kenapa begini kenapa begitu, dan
sebagainya. Aku sering kewalahan menjawabnya, karena dua-duanya meminta jawaban
segera.
Namun, semua ini rasanya masih belum
cukup. Kecintaan pada buku memang harus terus di-refresh. Ketika beberapa lama tak menyentuh buku, ternyata minat
anak-anak pada buku pun menurun. Memang harus kuperbaiki lagi manajemen waktuku,
agar aku tetap dapat menghabiskan waktu dengan mereka dan buku-buku. Karena
buku sebagai jendela dunia sangat dapat membantu kita mengajarkan pada
anak-anak kita tentang Sang Khaliq, tentang rukun iman, tentang Islam, tentang
akhlaq, tentang ibadah, tentang alam, tentang dunia, tentang semuanya. Apalagi
jika buku-buku anak itu dikemas secara ‘anak-anak’, sehingga menambah minat
baca pada anak-anak.
Buku adalah investasi untuk masa depan. Bisa jadi, buku-buku yang sekarang mereka miliki, bermanfaat saat mereka bersekolah di jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka mengerti lebih dulu dibandingkan teman-temannya. Yang penting, ilmu itu harus terus di-upgrade, salah satunya melalui membaca buku. Semoga saja anak-anakku kelak menjadi generasi Rabbani yang cinta buku, senang upgrade ilmu, senang menebar kebaikan, dan menjadi mujahid/mujahidah yang tangguh. Aamiin…
#bukudananakku
#akubukuanakku
#bookslover

Tidak ada komentar:
Posting Komentar