Kharisma Pearl

Kharisma Pearl
Buku Bergizi

Selasa, 28 April 2015

BUKU DAN ANAKKU


Kurangnya informasi yang kudapatkan menyebabkan aku tak terpikir untuk mengenalkan buku sejak dini pada anakku, Hanif. Pertama kali lihat iklan-iklan buku dari salah seorang teman, aku berpikir koq buku-buku untuk anak kecil aja mahal betul. Tapi tulisannya yang ‘gurih’ dan memikat, membuatku berpikir ulang bahwa buku memang perlu diperkenalkan pada anak sedini mungkin. Apalagi buku-buku yang berkonten Islam. 


Awalnya aku coba belikan sebuah buku boardbook untuk Hanif yang isinya mengenal angka, huruf, gambar, bentuk, warna, dan lain-lain. Bukunya memang menarik. Alhamdulillah ternyata tak begitu sulit untukku mengenalkan buku itu pada Hanif. Kami suka main tebak-tebakan dengan buku tersebut. “Ini gambar apa?” atau “Ini huruf apa?” atau “Coba cari yang mana gambar kepiting!” atau “Ayo hitung ikannya ada berapa!” dan sebagainya.

Selanjutnya, dengan basmalah aku memberanikan diri untuk ikut arisan satu buku paket anak yang menurutku begitu mahal. Dengan menyisihkan uang belanja tiap bulan, akhirnya kudapatkan sepaket buku Ensiklopedi Bocah Muslim (EBM). Ternyata luar biasa isinya. Aku saja tertarik untuk membacanya. Betul-betul tidak menyesal aku membelinya. Banyak hal-hal yang belum kuketahui sebelum aku membaca buku itu. Pokoknya buku itu bermanfaat sekali untuk anak-anak dan juga untuk orang tuanya. Rasa mahal dari buku itu hilang seketika.

Beberapa waktu, Hanif hanya suka pada 1 jilid yang berjudul Transportasi. Dia memang antusias sekali kalau melihat mobil, pesawat, dan juga kereta. Buku jilid itu saja yang suka dia buka. Sampai-sampai buku itu robek di beberapa tempat, saking dia antusias membuka-bukanya. Gak apa-apa lah ya…bertahap in sya Allah. Lama kelamaan, aku yakin dia akan suka juga dengan  jilid-jilid yang lain.

Saat adiknya lahir, Hanif pun disunat bersamaan dengan aqiqah Nayla, adiknya. Setelah itu, Hanif jadi suka sekali dengan buku EBM jilid Tubuhku, yang di halaman terakhirnya ada perihal sunat. Tak bosan-bosannya dia lihat buku itu dan membanding-bandingkan dengan dirinya yang sudah disunat. Rasanya senang sekali melihat anakku antusias dengan buku-bukunya. Semoga saja anak-anakku menjadi pecinta buku.

Selain EBM, akhirnya kubelikan juga Halo Balita beserta e-pennya untuk anak-anakku, dengan sistem arisan juga tentunya. Maklumlah, PNS sepertiku sulit untuk bisa membeli buku-buku semacam itu secara tunai, sedangkan daerahku di Sumbawa Barat NTB ini bukan daerah yang bisa membayar secara cicilan. Pilihan akhirnya adalah arisan. Alhamdulillah, ikhtiar menyisihkan uang belanja bisa diwujudkan dengan buku-buku berkualitas untuk anak-anakku.

Tak terbayangkan betapa antusiasnya anak-anakku dengan Halo Balita dan e-epennya. Seringkali mereka rebutan e-pen. Wah…wah…rame deh kalau sudah begitu, sehingga salah satu anak harus dialihkan pada hal-hal yang lain. Alhamdulillah kedua anakku bukan tipe anak yang suka membuang/membanting barang-barang ataupun mainan. Sehingga e-epen mereka tetap awet hingga sekarang.

Nayla biasanya lebih suka membaca sendiri bukunya dengan e-pen. Sedangkan Hanif lebih suka dibacakan olehku, ibunya. Namun sekarang mereka berdua lebih suka ibunya yang membacakan buku untuk mereka. Hampir tiap malam aku membacakan buku untuk mereka. Seringkali mereka yang memilih buku mana yang mau dibacakan. Dan….seperti biasa, rebutan lagi, minta dibacakan duluan buku pilihannya. Hehehe… Walaupun kadang aku merasa kerepotan, tapi tertutupi dengan rasa bahagia karena anak-anakku suka berinteraksi dengan buku.

Anak-anakku sudah agak besar sekarang. Hanif usia 6 tahun, Nayla 3 tahun. Kini mereka lebih suka dibacakan Ensiklopedi daripada Halo Balita. Ensiklopedi yang kami punya  ada beberapa, yaitu Ensiklopedi Bocah Muslim, Confidence In Science, dan ada beberapa Ensiklopedi yang dibelikan bapaknya di toko buku retail. Semua mereka suka. Tapi, karena mereka lebih tertarik dengan gambar-gambarnya, ketika aku bacakan tulisannya, mereka suka nyeletuk nanya gambar ini gambar itu, suka bertanya kenapa begini kenapa begitu, dan sebagainya. Aku sering kewalahan menjawabnya, karena dua-duanya meminta jawaban segera.

Namun, semua ini rasanya masih belum cukup. Kecintaan pada buku memang harus terus di-refresh. Ketika beberapa lama tak menyentuh buku, ternyata minat anak-anak pada buku pun menurun. Memang harus kuperbaiki lagi manajemen waktuku, agar aku tetap dapat menghabiskan waktu dengan mereka dan buku-buku. Karena buku sebagai jendela dunia sangat dapat membantu kita mengajarkan pada anak-anak kita tentang Sang Khaliq, tentang rukun iman, tentang Islam, tentang akhlaq, tentang ibadah, tentang alam, tentang dunia, tentang semuanya. Apalagi jika buku-buku anak itu dikemas secara ‘anak-anak’, sehingga menambah minat baca pada anak-anak.


Buku adalah investasi untuk masa depan. Bisa jadi, buku-buku yang sekarang mereka miliki, bermanfaat saat mereka bersekolah di jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka mengerti lebih dulu dibandingkan teman-temannya. Yang penting, ilmu itu harus terus di-upgrade, salah satunya melalui membaca buku. Semoga saja anak-anakku kelak menjadi generasi Rabbani yang cinta buku, senang upgrade ilmu, senang menebar kebaikan, dan menjadi mujahid/mujahidah yang tangguh. Aamiin… 

#bukudananakku
#akubukuanakku
#bookslover 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar