Kini aku tinggal jauh dari orang tuaku. Namun, dengan kecanggihan teknologi, kami bisa berkomunikasi setiap saat. Kadang aku bercerita tentang anakku yang masih belum berminat belajar baca tulis, namun lebih suka dibacakan buku. Lalu ibuku bercerita tentang aku saat masih balita. Ibu dan Bapakku adalah guru SD waktu itu. (Saat ini pun Ibuku masih menjadi guru SD, sedangkan Bapakku sudah menjadi pengawas sekolah).
Saat itu, usiaku sekitar 4 – 5 tahun dan sudah bersekolah di TK. Di sekolah TK itu hanya bermain saja, tidak ada pelajaran baca tulis. Sepulang mengajar di SD, Ibuku sering mengajakku ke tempat beliau mengajar Kelompok Belajar Paket A (Kejar Paket A). Yang diajari tentunya orang-orang dewasa yang belum bisa baca tulis. Entah aku memperhatikan atau bagaimana, aku pun tak ingat peristiwa-peristiwa saat itu. Namun begini cerita dari Ibu. Suatu hari Ibu melihatku membaca tulisan yang ada di televisi. Ibuku penasaran, “Apa iya anak ini bisa membaca?” Lalu Ibu menyuruhku membaca suatu tulisan lagi yang ada di televisi. Alangkah bahagianya beliau saat beliau tahu aku sudah bisa membaca di usiaku yang belum genap 5 tahun, dan tidak diajari pula.
Begitu bahagianya Ibu dan Bapakku,
hingga mereka berpikir, bagaimana supaya minat bacaku terus tumbuh. Akhirnya,
walaupun dengan ekonomi yang pas-pasan, mereka memutuskan untuk berlangganan
majalah Bobo tiap pekan. Aku suka sekali. Aku masih ingat, memang majalah Bobo
di rumah kami ada yang tertera tahun 1989 (saat usiaku 4 tahun). Aku pun masih
ingat, saat aku sudah SD, Bapakku dengan telaten mengumpulkan kembali
majalah-majalah lama, dan menjilidnya menjadi satu, hingga kira-kira tebalnya
10 cm. Lalu diberi judul Majalah Bobo tahun sekian sampai tahun sekian. Entah
ada berapa jilid, aku lupa. Walaupun kini berjilid-jilid majalah itu entah ada
dimana sekarang. Banyak barang tercecer sejak Bapak Ibu pindah rumah tahun 2007
lalu.
Dulu, hari kamis adalah hari yang
selalu ku nantikan. Karena, biasanya hari Kamis majalah Bobo diantar ke rumah
kami. Mungkin karena keegoisanku, setiap majalah Bobo itu datang, aku yang
harus duluan pegang dan membacanya. Sampai aku puas membaca, barulah kakakku
boleh membaca. Hehehe….nakal juga aku ya? Namun, tak semua aku baca biasanya.
Yang aku baca, ya yang menurutku menarik saja. Terutama cerita Bobo, Bona Gajah
Kecil Berbelalai Panjang, Arena Kecil, Tak Disangka, Husin dan Pamam Kikuk, itu
yang pasti selalu aku baca di tiap jilidnya.
Saat aku kelas 2 SMP, Bapak dan Ibu
memutuskan untuk berhenti langganan majalah Bobo itu, dengan alasan sudah tidak
relevan dengan usiaku. Aku sediiiih sampai menangis, karena aku masih suka baca
majalah itu. Tapi tak berlangsung lama juga sedihnya. Di SMP tempatku
bersekolah ada perpustakaan yang cukup besar. Banyak buku yang bisa dibaca. Sering
sekali aku ke perpustakaan, membaca buku atau meminjam buku-buku untuk dibaca
di rumah.
Mungkin memang eranya, waktu itu aku
tertarik dengan majalah remaja (majalah MOP) yang menampilkan sahabat pena.
Iseng-iseng aku berkirim surat ke beberapa orang dalam majalah itu. Ada yang
membalas, ada pula yang tidak membalas. Aku ingat, salah satu teman yang cukup
lama bersurat-suratan denganku namanya Erma Wijayanti dari Jepara. Entah dimana
keberadaannya sekarang. Lost contact begitu saja, ketika kami lulus SMP. Aku
tak tahu lagi alamat sekolahnya. Dulunya memang kami berkirim-kiriman surat
lewat alamat sekolah.
Di perpustakaan SMP itu pula, aku
senang sekali membaca buku-buku novel detektif, Lima Sekawan, Sapta Siaga
(karya-karya Enid Blyton). Buku-buku yang lain suka juga sih, tapi lebih suka
cerita-cerita detektif gitu. Seru deh… Kita dibuat berimajinasi, menebak-nebak,
menduga-duga, dan tak jarang dugaanku salah, hehehe…. Aku juga suka Goosebumps
karya R.L. Stine. Tapi kalau baca itu harus siang-siang, soalnya suka takut,
hahaha….
Memasuki SMU, ada majalah mini
terbitan SMU tempatku bersekolah. Majalahnya simpel dan sederhana tapi cukup
menampung tulisan-tulisan para siswa. Bagus-bagus sekali artikel, cerpen maupun
cerbung karya siswa-siswa SMU. Aku suka membacanya. Kadang aku tidak menyangka
penulisnya ternyata si A atau si B yang dari luar kelihatannya biasa-biasa
saja, tidak terlihat seperti seorang penulis.
Aaah….serunya masa kecil dan masa
remaja itu. Tak cukup rasanya ucapan berjuta-juta terima kasih pada Bapak dan
Ibuku, pun guru-guruku yang telah mengajarkan banyak hal padaku, yang telah
menanamkan kecintaan pada buku sejak dini, yang telah membimbingku hingga
seperti sekarang ini. Hanya Allah yang dapat membalas segala kebaikan mereka
semua. Aku ingin seperti mereka yang telah berhasil mendidik dan mengajarkan
pada anak-anak dan/atau murid-muridnya untuk mencintai buku. Namun tantangan
pada zaman sekarang mungkin bisa dibilang lebih berat, karena buku bersaing
dengan televisi, laptop, komputer, smartphone,
dan semua teknologi canggih yang dulu jarang atau bahkan belum ada. Walaupun
kita bisa membaca e-book lewat laptop
atau komputer atau smartphone, tapi
rasanya buku masih tak tergantikan keberadaannya. Terima kasih pada komunitas
pecinta buku yang telah membuka mataku mengenai hal itu. Ayo kita tingkatkan
minat baca dan tebarkan virus cinta buku pada masyarakat luas. Yuk…yuk…yuk… ^_^
#akudanbuku
#akubukuanakku
#bookslover

Tidak ada komentar:
Posting Komentar